Sabtu, 12 Januari 2013

Hukum Bacaan Qalqalah




      1. Pengertian Qalqalah
Qalqalah secara bahasa berarti gerak, getaran suara, memantul, mengeper. Sedangkan secara istilah adalah membunyikan dengan suara yang berlebih dari makhraj hurufnya. Qalqalah berlaku bila huruf qalqalah itu mati, atau mati karena waqaf (dihentikan). Qalqalah Jika kita baca, bunyinya tidak terus menghilang, melainkan masih terdengar perlahan-lahan.

Huruf Qalqalah ada 5 : ق ط ب ج د  apabila dikumpulkan menjadi  قَطْبُ جَدٍ

2. Macam-macam Qalqolah
Qalqalah ada 2 macam, yaitu :
a.      Qalqalah Kubra ((قلقله كبرى
Kubra artinya besar. Qalqalah kubra, terjadi apabila huruf qalqalah yang mati bukan pada asalnya. Huruf itu mati karena dihentikan atau diwaqafkan dan berada pada akhir kata. Cara membacanya harus lebih mantap dengan memantulkan suara dengan pantulan yang kuat.
Contoh :
ق : قُلْ اَعُوْذُبِربِّ اْلفَلَقِ (1) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (2)
ط : بِكُلِّ شَىْءٍ مُحِيْطٌ (54) فَيَئُوْسٌ قَنُوْطٌ (49)
ب :دَاتَ لَهَبٍ (3) وَاَمْرَ أَتُهُ حَمَّا لَةَ اْلحَطَبِ (3)
ج : وَمَا لَهَا مِنْ فُرُوْجٍ (6) مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيْجٍ (5)
د : قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ (1) اَللهُ الصَّمَدُ (2)
b.      Qalqalah Sughra ((قلقله صغرى
Sugra artinya kecil. Qalqalah sugra terjadi apabila huruf qalqalah itu mati (sukun) pada kata asalnya (pada umumnya terletak ditengah-tengah kata). Cara membaca Qalqalah tersebut yaitu dengan pantulan tidak terlalu kuat.
Contohnya :
يَقْطَعُوْنَ – يَطْمَعُوْنَ –يَبْغُوْنَ – يَجْعَلُوْنَ - يَدْعُوْنَ   
          3. Cara Membaca Qalqalah
    Membaca qalqalah dibedakan menjadi 2  cara, yaitu :
a.      Qalqalah yang tetap miring “a” yaitu huruf ط  dan ق
Contoh :
يَطْمَعُ   yatma’u dibaca yat-ta-ma’u
يَقْبَلُ    yaqbalu dibaca yaq-qa-balu
b.      Apabila huruf qalqalah terletak ditengah suatu kalimat atau kata, maka cara membacanya dapat berubah-ubah, menurut harakat yang sebelum dan sesudahnya. Dalam hal ini terdapat pada huruf ب  , ج, dan د dengan perubahan sebagai berikut :
1.      Miring kepada huruf “a” yaitu jika huruf sebelum dan sesudahnya berharakat fathah ( َ )
Contoh :
يَبْتَغِ     yabtaghi dibaca yab-ba-taghi
يَجْعَلُ   yaj’alu dibaca yab-ba-‘alu
Dan jika huruf sebelumna berharakat damah ( ُ)serta sesudahnya berharakat kasrah  ( ِ) , begitu pula sebaliknya.
Contoh :
مُجْرِمِيْنَ  mujrimiin dibaca muj-ja-rimiin
يُبْطِلُ   yubthilu dibaca yub-ba-thilu
رِجْسِهِمْ  rijsihm dibaca rij-ja-sihim
2.      Miring kepada “i” yaitu jika huruf sebelum dan sesudahnya berharakat kasrah.
Contoh :
اِبْلِيْسَ  ibliis dibaca ib-bi-liis
إِدْرِيْسَ idriis dibaca id-di-riis
إِجْرِ  ijri dibaca ij-ji-ri
3.      Mering kepada huruf “u” yaitu jika huruf sebelumnya dan sesudahnya berharakat dhamah
Contoh :
تُبْتُ  tubtu dibaca tub-bu-tu
أُدْخُلُوا  udkhulu dibaca ud-du-khulu
4.      Miring kepada huruf “o” yaitu jika huruf sebelumnya berharakat fathah dan huruf sesudahnya dhamah
Contoh :
يَدْخُلُوْنَ
5.      Miring kepada “e” yaitu jika huruf sebelumnya berharakat kasrah dan huruf sesudahnya berharakat fathah.
Contoh :
رِجْسًا
مِدْرَارًا

B.      Hukum Bacaan Ra
1. .              1. Pengertian Hukum Bacaan Ra’
       Huruf Ra’   (ر)adalah satu huruf hijaiyah yang pengucapannya berbeda-beda. Satu waktu dibaca tebal sementara yang lain dibaca tipis. 
           
          2. Macam-macam Bacaan Ra’
Hokum membaca ra ada tig macam, yaitu tafkhim, tarqiq dan jawazul wajhain.
a.      Tafkhim (تَفْخِيْمَ)
Ra tafkhim yakni huruf ra’ yang dibaca tebal. Ada 4 perkara yang menyebabkan ra’ dibaca tebal. Yakni;
1.      Apabila ra’ berharakat dhammah, fathah, fathatain atau dammatain.
Contoh : رُزِقْنَا – رَبِّهِمْ – تِجَارًا-غَفُوْرٌ
2.      Apabila ra’ berharakat sukun dan huruf sebelumnya berharakat fathah atau dhamamah.
Contoh : بَرْقٌ – قُرْانٌ – تُرْجَعُوْنَ - يَرْقُدُوْنَ
3.      Apabila ra berharakat sukun, dan huruf sebelumnya berharakat kasrah, tetapi kasrahnya tidak asli dari kalimat itu (karena hamzahnya adalah hamzah tambahan atau hamzah wasal).
Contoh : إِرْفَعُوْا – إِرْكَبْ –إِرْجِعُوْا - إِرْكَعُوْا
4.      Apabila ra’ berharakat sukun dan huruf sebelumnya berharakat kasrah asli, dan sesudahnya terdapat salah satu huruf isti’la yang tidak berharakat kasrah. Huruf isti’la yaitu huruf yang dibaca berat atau tebal. Huruf isti’la terdiri dari  خ ص ض غ ط ق
Contoh : قِرْطَاسٍ – لَبِالْمِرْصَادِ- فِرْقَةٌ
b.      Tarqiq (تَرْقِيْق)
Ra’ tarqiq yakni huruf ra’ yang dibaca tipis. Ada 3 perkara yang menyebabkan ra’ dibaca tipis, yakni :
1.      Apabila ra’ berharakat kasrah atau kasratain (رٍ- رِ)
Contoh : رِزْقًا – كَرِيْمٌ – بِضُرٍّ – لَفِيْ خُسْرٍ
2.      Apabila ra’ berharakat damah atau damatain dan huruf sebelumnya berupa ya mati (يْ) dan ra tersebut diwaqafkan atau berhenti.
Contoh : بَصِيْرٌ – سَعِيْرٌ – جَرِيْرٌ – مِنْ خَيْرٌ
3.      Apabila ra sukun didahului oleh huruf yang berharakat kasrah dan sesudahnya tidak ada huruf istila.
Contoh : فِرْعَوْنَ - مِرْيَةٌ
c.       Jawazul wajhain جَوَازُ اْلوَجْهَيْنِ
Maksudnya ra’ boleh dibaca tafkhim dan boleh dibaca tarqiq, yaitu :
1.      Apabila ra sukun didahului oleh huruf berharakat  dan sesudahnya berupa huruf isti’la kasrah atau sukun.
Contoh : مِنْ فِرْقٍ – عَيْنَ اْلقِطْرِ
2.      Apabila sesudah huur ra terdapat ي  yang dihilagkan
Contoh : وَاللَّيْلِ إِذَايَسْرِ (اصله يَسْرِيْ)
3.      Apabila ra sukun didahului oleh huruf yang berharkaat kasrah dan sesudah ra terdapat huruf isti’la yang tidak berharakat kasrah.
Contoh : مِرْصَادٌ – فِرْقَةٌ


Tidak ada komentar: